Saturday, January 29, 2011

YOGI BEAR (2010)

"Please do not feed the bears"
Director :
Eric Brevig

Cast :
Dan Aykroyd
Justin Timberlake
Tom Cavanagh
Anna Faris

Distributor :
Warner Bros. Pictures

Genre :
Animation, Comedy, Adventure, Family








Mungkin yang dulu melewati masa kecil di tahun 1961 pasti tahu apa itu Yogi Bear. Ya, animasi ciptaan duo kartunis legendaris Hanna & Joseph Barbera yang menempatkan dua ekor beruang fiksi yang bisa berbicara ini kembali hadir di layar lebar dengan teknologi mutakhir, yaitu menggunakan efek CGI dan format 3D. Efek CGI yang diterapkan pada film ini sama seperti Alvin and The Chipmunks dan Space Jam, yaitu perpaduan live-action dan animasi. Untuk mengisi suara kedua beruang nakal ini, Dan Aykyord (Antz) dipercayakan menghidupkan karakter Yogi, sedangkan karakter Boo Boo disuarakan oleh Justin Timberlake, yang belakangan ini sedang naik daun di industri perfilman, diantaranya animasi Shrek The Third dan film pemenang Golden Globe - The Social Network.

Tuesday, January 25, 2011

83rd Annual Academy Awards Nominations List

Nominasi ajang penganugerahan insan perfilman paling bergengsi di dunia - Academy Award - baru saja diumumkan. Pengumuman berlangsung pukul 8.30 pagi waktu Amerika Serikat, atau 20.30 WIB. Daftar nominasi pun sangat mengejutkan banyak orang - termasuk saya. Ekspetasi semua orang pun terpatahkan saat melihat jagoannya tidak dapat nominasi.

FASTER (2010)

"Slow Justice is No Justice"
Director :
George Tillman Jr.

Cast :
Dwayne Johnson

Billy Bob Thornton
Oliver Jackson-Cohen
Maggie Grace


Distributor :
CBS Films

Genre :
Action, Thriller, Drama











Kembali ke 'habitat' aslinya - Dwayne Johnson akhirnya memperlihatkan bagaimana jati diri sesungguhnya seorang mantan pegulat yang terkenal dengan sebutan The Rock. Setelah sebelumnya sering 'nyasar' di film-film bertema komedi keluarga yang kualitasnya dicampakkan justru oleh kehadiran ia sendiri di semua film tersebut. Johnson sepertinya memang tak cocok memerankan karakter-karakter konyol seperti peri gigi di Tooth Fairy. Malang memang, sepertinya waktu itu Johnson lupa gosok gigi kali ya. Nah, kali ini aktor berusia 38 tahun tersebut unjuk gigi dengan mengangkat semua 'karang gigi' yang membekas di dirinya dalam dunia perfilman lewat aksi balas dendam.

Friday, January 21, 2011

3-in-1 Reviews: CONVICTION (2010), 127 HOURS (2010), BURIED (2010)

"An extraordinary journey of how far we go to fight for our family"
Director :
Tony Goldwin

Cast :
Hilary Swank
Sam Rockwell
Minnie Driver
Melissa Leo

Distributor :
Fox Searchlight Pictures

Genre :
Drama, Biopic








Diangkat dari kisah nyata, Conviction mengisahkan sepasang kakak beradik bernama Betty Anne Waters dan Kenny Waters. Kenny dituduh atas pembunuhan yang terjadi pada tahun 1983 pada seorang wanita bernama Katharina Brow. Awalnya Kenny sempat dilepaskan karena tidak ditemukan bukti apapun, tapi tak lama waktu berselang ia kembali didatangi polisi berkenaan dengan kasus tersebut. Malangnya kali ini ia dianggap bersalah sehingga dijebloskan ke penjara. Sepuluh tahun berselang, Betty tetap yakin bahwa Kenny - kakak yang ia sayangi itu tidak bersalah. Betty pun mencoba segala cara untuk membebaskannya, termasuk ikut kuliah hukum hingga akhirnya ia berhasil menjadi pengacara Kenny. Suatu saat ia menemukan cara untuk membawa kakaknya itu kembali bersamanya, meskipun tetap saja banyak halangan yang coba menghadangnya. as berkarakter tinggi yang sangat inspiratif dan didukung penampilan luar biasa oleh kedua leading-role.

Rate:
4/5

"There is no force more powerful than the will to live"
Director :
Danny Boyle

Cast :
James Franco
Kate Mara
Amber Tamblyn

Distributor :
Fox Searchlight Pictures

Genre :
Adventur
e, Drama, Thriller







127 Hours diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh Aron Ralston. Bila Buried 'terperangkap' di peti, Devil 'terperangkap' di lift, 127 Hours juga bermain dengan kata 'terperangkap'. Bedanya 127 Hours 'terperangkap' di tengah Canyonland yang panas dan gersang. Aron memutuskan untuk melakukan pendakian sendiri berbekal perlengkapan seadanya dan sederhana. Di taman nasional yang terletak di Utah itu Aron mendaki dengan senangnya seakan perjalanan yang ia sedang hadapi terasa mudah dan biasa saja. Sayangnya Aron tidak memberi tahu keluarganya bahwa ia akan mendaki sendiri di lokasi ini. Di tengah pendakian, Aron bertemu dengan dua orang wanita bernama Kristi dan Megan. Mereka bertiga mendaki bersama dan akhirnya Aron berpisah. Saat ia mau melewati sebuah celah yang dalam, Aron jatuh ke bawah celah tersebut dan sebuah batu besar menjepit tangan kanannya. Selama lima hari ia berusaha menyelamatkan dirinya dari celah tersebut dan mengeluarkan tangannya. Selama lima hari itu juga Aron mendapat halusinasi akan hal-hal yang telah ia jalani bersama teman dan keluarganya.

Mungkin banyak orang sudah tahu bagaimana jalan cerita 127 Hours. Memang naskah cerita film ini tidak rumit dan panjang, wajar, namanya juga kisah nyata, tidak bisa diubah atau dilebih-l
ebihkan. Makanya itu, cerita bukanlah yang menjadi daya jual utama film garapan sutradara yang sukses lewat Slumdog Millionaire itu, Danny Boyle. Awalnya saya sempat berpikir film ini akan membosankan. Bagaimana tidak, cerita berlangsung selama lima hari dengan hanya satu karakter. Ternyata tidak, Boyle berhasil membuat penonton tegang sekaligus terpana dengan menambahkan sebuah halusinasi Aron yang sempurna. Selain itu dengan beberapa sudut pandang kamera Aron, film sama sekali tidak terasa membosankan. Film diwarnai dengan musik pengiring yang menambah intensitas ketegangan. Saya berhasil dibuat emosi, kadang tegang, dan kadang gelisah melihat keadaan karakter yang diperankan oleh James Franco itu. Jujur, saat adegan Aron memotong tangannya saya malah sakit perut hahaha. James Franco bermain alami seakan ia benar-benar mengalami peristiwa menyeramkan tersebut. Kerja bagus bagi mantan bintang film Spiderman tersebut, pasti kelelahan yang ia alami selama masa produksi terbayar oleh hasil sinematografi yang indah dan seakan hidup. Well, 127 Hours adalah salah satu film yang membuat saya ikutan emosi, walau dengan cerita yang biasa dan sederhana, tapi sukses ditutupi oleh performa Franco yang kuat dan luar biasa.

Rate :
4/5



"170,000 SQ miles of desert. 90 minutes of Oxygen. No way out"
Director :
Rodrigo Cortes

Cast :
Ryan Reynolds
Robert Paterson
Samantha Mathis

Distributor :
Lionsgate Films

Genre :
Drama, Thriller








Paul Conroy adalah supir truk dari Amerika Serikat yang ditugaskan untuk bekerja di Irak. Segala resiko memang harus ditanggung setiap orang yang menetap di negara yang sering terjadi peperangan dan bom tersebut. Saat Paul bangun dari tidurnya ia mendapati dirinya sedang berada di sebuah ruang yang sangat sempit bahkan susah untuk bergerak. Akhirnya ia mendapati dirinya terkurung di sebuah peti kecil. Tidak hanya itu, ia menyadari bahwa peti yang menurung ia itu terkubur di bawah padang pasir. Paul menemukan sebuah ponsel berbahasa arab dan pemantik api dalam peti itu. Paul tidak tahu siapa yang menguburnya hidup-hidup dalam peti itu. Ia hanya bisa berharap pada ponsel yang makin lama baterainya melemah sebagai alat komunikasi dan pemantik sebagai pencahayaan.

Awalnya saya tidak berminat untuk nonton film berbudget minim sekitar US$2juta ini. Apakah akan membosankan? Ternyata tidak. Memang sih film berjalan dari awal sampai akhir hanya berlokasi dalam peti tersebut. Tapi semuanya berhasil dibalut dengan performa Ryan Reynolds yang mampu mengajak penonton memasuki jiwanya. Segala ketakutan, kegelisahan, dan kemarahnnya berhasil merebut emosi saya, saya jadi ikut emosional nontonnya. Bahkan dengan ruang sesempit itu, Reynolds sukses menyalurkan kegelisahan yang ia alami. Penonton dibawa Rodrigo Cortes kedalam alam penasaran, siapa yang mengubur Paul? Semuanya terjawab di akhir film, betul-betul akhir film, bisa dibilang detik-detik terakhir. Jadi sepanjang film kita disuguhi perjuangan Paul dalam mengatasi kesesakan dan penderitaannya. Awalnya saya kaget melihat nama pemeran utama film ini; "Ryan Reynolds". Kok bisa seorang Reynolds mendapat tanggapan positif dari khalayak banyak. Ternyata memang pantas ia dapati. Ryan Reynolds dibayar hanya untuk membuat raut wajah sesuai dengan emosinya, ya, berhasil ia lakukan. Pecinta Reynolds saya sarankan nonton film ini, karena dari menit pertama sampai akhir wajahnya terus-terusan bisa kita lihat hahaha. Cortes layak diancungi jempol, ia sukses memukau saya walau dengan budget kecil. Well, Buried adalah thriller minimalis dengan cerita minimalis, tanpa efek visualisasi mutakhir, dan performa maksimalis dari Ryan Reynolds.

Rate :
4/5

LET ME IN (2010)

"Innocence dies. Abby doesn't"
Director :
Matt Reeves

Cast :
Chloe Grace Moretz

Kodi Smit-McPhee

Richard Jenkins
Cara Buono


Distributor :

Ovetrute Films

Genre :
Drama, Horror, Remake








Let Me In merupakan remake dari film asal Swedia dengan judul agak beda dan lebih panjang, Let The Right One In di tahun 2008. Dua film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul Lat Den Ratte Komma In. Walau saya belum nonton versi Swedianya, banyak yang mengatakan versi asli besutan sutradara Tomas Alfredson itu menarik banyak pihak dan ternyata ceritanya yang dramatik sukses dicintai banyak pihak. Lalu Matt Reeves yang sebelumnya sukses dengan Cloverfield-nya pun segera membuat remakenya dengan harapan dapat mengulang kesuksesan versi pendahulunya. Chloe G. Moretz dan Kodi Smit-McPhee dipilih untuk memerankan dua sosok utama di film ini.Film berdurasi 115 menit ini bersettingkan sebuah kota kecil di New Mexico pada tahun 1983. Film dibuka dengan peristiwa kecelakaan yang berujung bunuh diri pada si korban. Cerita pun diatur flashback menuju dua minggu sebelumnya. Mengisahkan seorang Owen, anak laki-laki yang tinggal bersama ibunya yang mengalami sebuah perceraian. Owen menjalani hidupnya di tengah kesendirian. Di sekolahnya, anak berumur 12 tahun itu mengalami nasib yang sangat suram, ia di-bully oleh anak-anak berandal di sekolahnya diluar batas. Suatu hari seorang anak perempuan misterius pindah ke apartment sebelahnya bersama seorang pria yang kelak diakuinya sebagai sang ayah. Gadis kecil itu bernama Abby. Awalnya saat berkenalan Abby mengatakan bahwa dia tidak bisa menjalin hubungan pertemanan, tapi malah hubungan mereka makin dekat nantinya. Abby dan Owen pun terus menjalani hubungan dengan baik hingga muncul rasa cinta di benak Owen. Namun banyaknya hal misterius dalam diri Abby kadang membuat Owen penasaran. Lama-lama semua pertanyaan dalam hati dan pikiran Owen terjawab dengan perlahan. Ya, Abby bukanlah manusia biasa...melainkan si peminum darah.Mungkin yang pertama timbul di bayangan orang-orang terhadap film ini akan banyak adegan menegangkan dan mengagetkan dengan banyak darah bercucuran dan musik yang mengejutkan. Tapi tidak, Let Me In lebih menonjolkan sisi drama di ceritanya. Kalau boleh diukur, sisi horror/seremnya paling cuma 20%. Cerita lah jualan utama film ini. Let Me In sukses membius saya dari awal sampai akhir film dengan alunan cerita yang kelam, dingin, dan amat sangat sendu. Sepanjang durasi film mengalun dengan sunyi, mungkin bisa membawa penonton ke tingkat kesedihan. Cerita berjalan dengan lambat tapi pasti, tidak membosankan. Chloe dan Kodi adalah partner film paling saya cintai tahun 2010. Mereka berhasil menampilkan warna gelap sepanjang film. Chloe yang sebelumnya sukses dan memikat sebagai Hit Girl di Kick-Ass bermain lebih dewasa disini. Ia sanggup memperlihatkan kemisteriusan seorang Abby, kadang berperilaku lugu dan pendiam, tapi sangat kejam sebagai vampir. Sedangkan Kodi yang sebelumnya bermain di The Road juga berhasil memperlihatkan kepribadian Owen yang penyendiri dengan hidup yang menyedihkan, namun memiliki rasa dendam mendalam di dirinya. Mereka memiliki chemistry yang kuat. Memang Twilight Saga lebih terkenal sebagai pelopr film vampire, tapi sayangnya Twilight (versi film) tidak ada apa-apanya. Kadang setelah nonton film/serial vampire seperti ini atau The Vampire Diaries saya merasa cerita yang dikembangkan novelis Stephenie Meyer itu berlebihan. Sayang, versi film hadir lebih jelek. Oke kembali ke Let Me In hahaha. Selain itu Let Me In berjalan sendu dengan alunan musik yang sendu. Well, Let Me In adalah horror kelas atas Hollywood yang harus dicontoh film-film lain apalagi film remake. Matt Reeves berhasil memberikan nafas pada film ini dengan kuat dan yang pasti sukses merebut hati saya.
Abby : You have to hit back.
Owen : I can't. There's 3 of them.
Abby : Then you hit back even harder.



Rate :
4.5/5

Monday, January 17, 2011

[Movie Freak Award] BEST AND WORST MOVIES - 2010

LIST SUDAH DIPERBAIKI DAN DIUBAH ULANG, KLIK LINK DIBAWAH INI

FILM TERBAIK
1. Toy Story 3
2. The Social Network

3. Kick-Ass

4. Easy A

5. 127 Hours

6. Buried
7. The Fighter
8. The Kids Are All Right
9. Inception

10. Scott Pilgrim vs. The World

11. Let Me In

12. Black Swan

13. Monsters

14. The Town

15. Rapunzel

FILM TERBURUK
1. The Last Airbender
2. Predators
3. Legion
4. The Romantics
5. Vampires Suck
6. Piranha
7. Bounty Hunter
8. The Hole
9. Splice
10. Twilight Saga: Eclipse


FILM MENYENANGKAN

List yang satu ini berisi daftar film-film yang menurut saya seru untuk ditonton, dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah karena scoring film, jalan cerita, humor yang membuat saya ketawa terbahak-bahak, efek visual yang memukau, dialog yang mengacaukan otak saya namun sangat seru, sampai unsur horror yang memacu adrenalin dan mengagetkan. Film-film ini adalah film-film yang saya rate dari 3-5. Beberapa diantaranya termasuk Film Terbaik. Sebagian besar memiliki jalan cerita yang biasa tapi berhasil menutupinya dengan unsur-unsur menyenangkan yang sangat menghibur. Oiya, untuk yang satu ini saya acak, tidak saya urutan berdasarkan rank.
1. Kick-Ass
2. Inception
3. A Nightmare on Elm Street
4. Knight and Day
5. The A-Team
6. Tron: Legacy
7. The Chronicles of Narnia: Voyage of The Dawn Treader
8. Unstoppable
9. Paranormal Activity 2
10. Step Up 3D
11. Furry Vengeance
12. Toy Story 3
13. Date Night
14. Salt
15. Easy A
16. Let Me In
17. Despicable Me
18. Scott Pilgrim vs. The World
19. The Social Network
20. You Again


TIDAK SEPERTI YANG DIHARAPKAN
Bukan berarti film buruk, namun enam film berikut adalah film yang kalau dilihat di trailer, sinopsis, maupun posternya terlihat bakal menyenangkan. Tapi pas nonton semuanya harapan itu berantakan, tidak seperti yang diharapkan.
1. Gulliver's Travels

2. Killers

3. Megamind

4. Shrek Forever After

5. Iron Man 2

Saturday, January 15, 2011

3-in-1 Reviews: MEGAMIND (2010), BABIES (2010), LEGEND OF THE GUARDIANS: THE OWLS OF GA'HOOLE (2010)

"Heroes aren't born. They're made"
Director :
Tom McGrath

Cast :
Will Ferrell
Brad Pitt
Tina Fey
Jonah Hill

Distributor :
DreamWorks Animation

Genre :
Animation, Comedy, Family, 3D






Megamind - pengisi suara Will Ferrell - adalah penjahat terkenal berwarna biru di kota Metro City. Di kota yang sama hidup juga seorang pahlawan yang sangat dibanggakan seisi kota, Metro Man - pengisi suara Brad Pitt. Suatu saat Megamind berhasil melenyapkan Metro Man dengan memanfaatkan seorang reporter bernama Roxanne - pengisi suara Tina Fey - sebagai penarik perhatian Metro Man. Seiring berjalannya waktu Megamind merasa hampa hidup tanpa musuh, ia pun melatih dan menciptakan sosok superhero baru yang diberi nama Titan Man - pengisi suara Jonah Hill.

Tema superhero yang diangkat Tom McGrath tergolong sama seperti Despicable Me dan The Incredibles. Namun, jalan cerita Megamind tidak terlalu seru untuk diikuti. Di pertengahan durasi, film mencapai titik jenuh hingga terasa membosankan dan tidak seru. Untungnya menjelang menuju ending, film jadi seru. Saya rasa naskahnya kurang dikembangkan hingga membuat cerita menjadi terlalu ringan. Megamind menjadi sebuah film keluarga yang terlalu 'anak-anak'. Well, Megamind boleh lah dijadikan tontonan keluarga, dengan aksi konyol dan haru para karakter. Tapi maaf saja, Megamind tidak pantas dijadikan animasi terbaik 2010, masih banyak animasi lain yang lebih berkarakter dan menarik.

Rate :
3/5


"Everybody loves..."
Director :
Thomas Balmes

Cast :
Ponijao
Mari
Bayar

Hattio

Distributor :
Focus Features

Genre :
Documenter







Babies adalah dokumenter yang memperlihatkan kehidupan empat bayi dari negara yang berbeda. Mereka terbagi menjadi dua golongan urban yang bertolak belakang, ada Ponijao dari Namibia dan Bayar dari Mongolia yang mewakili urban primitif, ada juga Mari dari Jepang dan Hattie dari Amerika Serikat yang mewakili urban modern. Setiap bayi tumbuh dan terawat dengan cara atau bisa dibilang nasib yang berbeda.

Babies merupakan dokumenter yang berdiri tanpa narasi dan dialog cerita. Namun Thomas Balmes yang membutuhkan dua tahun untuk merekam perkembangan keempat bayi ini berhasil memperlihatkan kemanisan jalan cerita yang benar-benar mempesona. Niat Balm
es untuk memproduksi dokumenter ini layak dipuji, bagaimana tidak, dia pasti sabar menunggu semua bayi ini tumbuh hingga ia dapat menyelesaikan proyeknya. Bahkan rekaman yang ia kumpulkan terhitung kurang lebih 400 jam, dan ia sukses memangkasnya menjadi 79 menit. Well, Babies sanggup menghibur penonton dengan kepolosan empat bayi ini dengan charming, walau terkadang kita bisa merasa bosan.

Rate :
3/5


"
On his way to finding a legend...he will become one"
Director :
Zack Snyder

Cast :
Emily Barclay
Abbie Cornish
Essie Davis
Adrienne DeFaria

Distributor :
Warner Bros. Pictures

Genre :
Animation, Adventure, Fantasy, 3D







Legend of The Guardians: The Owls of Ga' Hoole menceritakan Soren dan Kludd , yang adalah kakak beradik yang suatu ketika jatuh dari sangkarnya diatas pohon dan akhirnya diculik oleh burung hantu misterius. Mereka dibawa ke penampungan yatim piatu yang dipimpin oleh Metalbeak dan Nyra yang jahat untuk dijadikan budak. Beruntung, Soren berhasil kabur bersama teman barunya yang bernama Gylfie dan akhirnya bertemu dengan burung hantu lainnya yang nantinya bersama-sama meningkatkan kemampuan terbang mereka, sedangkan Kludd yang memiliki kecemburuan mendalam terhadap Soren tetap di penampungan bernama St. Aggie itu karena terbujuk rayuan jahat Pure Ones. Lalu Soren mencari tahu keberadaan legenda Guardians Ga 'Hoole untuk menyelamatkan bangsa burung hantu.

Efek visual memang kunci utama animasi ini. Sangat memanjakan mata, dan menakjubkan. Cerita yang ditawarkan ringan, dibantu dengan karakterisasi yang sangat indah dan begitu kuat. Plot cerita yang ada kadang terlihat kejam dan sangar. Namun kadang malah berbalik menjadi haru dan cantik. Ditolong oleh soundtrack lagu dari Owl City yang menawan. Efek slow-motion layak diancungi jempol, sayang saya tidak nonton dalam versi 3D. Well, animasi adaptasi ini sangat menyenangkan dan mengagumkan, apalagi karakter burung hantunya lucu-lucu

Rate :
3.5/5

LITTLE FOCKERS (2010)

"Maybe kids will bring them closer?"
Director :
Paul Weitz

Cast :
Robert DeNiro
Ben Stiller
Owen Wilson
Jessica Alba

Distributor :
Universal Pictures

Genre :
Comedy, Sequel







Melanjutkan dua seri sebelumnya, Meet The Parents (2000) yang sukses mengocok perut penonton dan menuai banyak tanggapan baik, dan Meet The Fockers (2004) yang tetap melanjutkan kisah sebelumnya dengan beberapa tambahan anggota keluarga - sukses menuai pundi-pundi uang, tapi malah mengalami kemerosotan kualitas. Seri ketiga ini bercerita mengenai Greg Focker - tetap diperankan oleh Ben Stiller - yang kini telah memiliki sepasang anak kembar cewe-cowo, buah dari perkawinannya dengan Pam, yang pasti anak dari Jack Byrnes - 'musuh bebuyutan' Greg dari seri pertama. Henry dan Samantha - anak kembar Greg dan Pam - akan menginjak usia lima tahun dan hendak membuat pesta ulang tahun. Jack pun datang ke rumah mereka sekalian menyambut hari jadi cucunya itu. Persoalan pun timbul perlahan-lahan, untuk kesekian kalinya Jack kembali mencampuri urusan keluarga Greg dan Pam. Segala kecurigaan timbul di benak Jack pada Greg, terutama kedekatannya dengan rekan kerja di rumah sakit, Andi. Lagi-lagi Jack berusaha untuk memisahkan anaknya dengan Greg. Namun semua kecurigaan Jack itu pada akhirnya punah juga seiring berjalannya waktu dan kenyataan yang terkuak.Little Fockers nyatanya tak beda dari komedi lain seperti Date Night atau Hangover yang menonjolkan humor esentrik khas Amerika. Tidak ada yang baru disini. Little Fockers sangat terlihat terlalu mengandalkan keberadaan humor di dialog-dialog karakter, tapi sayang porsinya terbilang sedikit bahkan beberapa tidak terlalu menarik untuk ditertawakan. Kalau boleh memilih, Date Night lebih bisa membuat saya ngakak lebar-lebar. Cerita yang dihadirkan di seri ketiga ini tidak sebagus pendahulunya, terkesan datar dan miskin naskah. Rasanya aneh Paul Weitz tidak menyuguhkan konflik baru, masa tidak punya ide baru gitu? Disini kita kembali disuguhkan konflik jadul si Greg-Jack yang membosankan. Kalo urusan penampilan sih lumayan, Ben Stiller dan DeNiro lumayan kocak dalam aksi dan dialog yang mereka ucapkan. Pemeran pendukung lainnya seperti Jessica Alba dan Owen Wilson biasa aja. Well, tidak ada yang spesial di film berdurasi 98 menit ini, terlalu ringan, bobotnya terlalu berat ke lawakan saja, ya bagi yang ingin ketawa boleh lah nonton yang satu ini, asal jangan berharap ada kisah yang menarik disini. Mungkin sebenarnya mereka mau buat remake, hahaha.

Rate :
2.5/5

Tuesday, January 11, 2011

3-in-1 Reviews: RABBIT HOLE (2010), MONSTERS (2010), BLACK SWAN (2010)

"Love will get you through"
Director :
John Cameron Mitchell

Cast :
Nicole Kidman
Aaron Eckhart
Dianne Wiest
Miles Teller
Sandra Oh

Distributor :
Lionsgate Films

Genre :
Drama






Rabbit Hole bercerita mengenai kehidupan sepasang suami istri delapan bulan pasca kematian anak satu-satunya kecelakaan mobil, mereka adalah Becca - diperankan Nicole Kidman, dan Howie - diperankan Aaron Eckhart. Kehidupan mereka berubah drastis dan seakan hancur tanpa harapan. Becca sangat terguncang dan belum bisa menerima kenyataan pahit tersebut, ia pun memutuskan untuk menjalani hidup dalam kesendirian. Sedangkan Howie memutuskan untuk bergabung dalam komunitas konsultasi pasangan suami istri agar bisa mencari jalan keluar dalam keadaan keluarganya sekarang. Awalnya Becca juga ikut Howie mengikuti kegiatan kelompok ini, namun akhirnya ia keluar karena merasa sesutu yang aneh dalam benaknya. Pasangan ini pun menjalani hidupnya perlahan dengan penuh kedukaan yang tidak bisa hilang. Becca berubah menjadi wanita yang rapuh, memendam rasa kehilangannya dengan 'sunyi', seakan tidak mau siapapun masuk ke dalam hidupnya. Waktu tetap berjalan, Becca bertemu dengan seorang pria muda dan menjalani hubungan portemanan dengannya. Sedangkan Howie terlibat dalam affair dengan wanita di komunitas yang sama. Tapi hidup mereka tetap hampa, malah berbagai masalah tambah mengguncang kepribadian mereka. Apa solusi yang harus mereka lakukan?
Film berdurasi 91 menit ini merupakan debut Nicole Kidman sebagai produser untuk kedua kalinya, setelah delapan tahun lalu sempat memproduseri film thriller-mystery In The Cut. Rabbit Hole diadaptasi dari naskah teater karya David Lindsay-Abaire. Kisah melodrama mampu disajikan dengan baik dan segar. Nicole dan Aaron berhasil memperlihatkan emosi mendalam yang meluap akibat keterpurukan sebuah kehidupan. Nicole menunjukan dilema yang menyakitkan lewat kerapuhan yang dialaminya. Setiap emosi yang dikeluarkan dari sikap dan perkataanya terasa alami dan serius. Ia juga sangat baik dalam memperlihatkan sebuah peningkatan jiwa karakternya untuk berusaha keluar dalam kesunyian hidup ketika bertemu dengan seorang pria muda. Begitu juga dengan Aaron - perannya sebagai suami yang berusaha keluar dari masalah pedih ini dengan cara yang mungkin ia anggap normal - sanggup ia lakoni dengan baik. Kata demi kata mereka lakukan dengan alami, terasa alami dan tidak dilebih-lebihkan. Rabbit Hole diakui Kidman sebagai proyek idealisnya, sehingga ia rela merogoh koceknya sendiri untuk membiayai proyek ini. Nonton film ini membuat saya teringat dengan kisah yang mirip dalam Revolutionary Road (2008). Well, Rabbit Hole berhasil dirangkai menjadi drama pedih mengenai kehilangan dan kerapuhan. Salah satu drama terbaik tahun 2010!

Rate :
4/5



"Beware"
Director :
Gareth Edwards

Cast :
Whitney Able

Scott McNairy

Distributor :

Vertigo Films

Genre :

Sci-Fi





Dikisahkan wilayah Mexico telah lama dikarantina karena adanya kehidupan makhluk luar angkasa yang menyebar di walayah ini. Semua makhluk - atau bisa dibilang alien - tersebut berdampak fatal hingga mengakibatkan rakyat Mexico hidup waspada dan tidak tenang dan juga menghancurkan sebagian besar gedung-gedung. Hal ini mengakibatkan perbatasan Amerika Serikat-Mexico dicap infected zone. Tokoh yang mengisi jalan ceritanya adalah Andrew Kaulder, seorang jurnalis yang ditugaskan untuk menjemput dan membawa anak atasannya, Samantha Wynden, kembali ke Amerika Serikat. Perjalanan pulang tak semudah kedatangan. Karena kehilangan paspor dan tiket kapal, mereka berdua terpaksa mengambil jalan darat yang pasti lewat infected zone. Berbagai halangan dan rintangan pun mereka hadapi, termasuk gangguan si makhluk raksasa itu.Tidak sesuai dengan pengiraan saya sebelumnya. Awalnya saya kira film garapan Gareth Edwards ini tak ada bedanya dengan film yang mengangkat tema invasi alien kebanyakan seperti Skyline dan War of The Worlds. Ternyata tidak, justru Monsters berhasil menghibur penonton dengan jalan cerita yang dipenuhi adegan menegangkan dan dihantui rasa penasaran akan ending film yang ternyata sangat memuaskan. Dengan budget hanya US$800.000, Monsters hadir dengan efek visual yang mungkin terlihat biasa tapi terasa nyata. Terlihat dari kehidupan rakyat Mexico yang sudah terbiasa dengan pemberitaan aksi-aksi monster ini. Kisah yang ditawarkan diwarnai dengan drama sederhana dua tokoh protagonis utama, cukup menarik walau kurang mengigit. Chemistry Whitney dan Scott terjalin baik, mungkin didukung oleh hubungan mereka di dunia nyata yang memang sepasang kekasih. Walau semua kisah fiksi yang ada tergolong sederhana, namun semua itu mengakibatkan film ini terasa realistis. Bisa dibilang saya merasa ini adalah film dokumenter. Monsters bisa dikatakan sebagai adonan hasil campuran Cloverfield, War of The Worlds, dan The Road. Well, Monsters adalah film fiksi ilmiah sederhana dengan kisah realistis tentang kehancuran suatu wilayah yang dibumbui dengan drama sederhana yang pas dan menarik perhatian.

Rate :
4/5


"The only person standing in your way is you"
Director :
Darren Aronofsky

Cast :

Natalie Portman

Vincent Cassel
Mila Kunis

Barbara Hershey


Distributor :

Fox Searchlight Pictures


Genre :

Drama, Thriller





Black Swan mengisahkan seorang ballerina profesional bernama Nina Sayers yang baru saja dipilih koordinator pertunjukan, Thomas Leroy, untuk memerankan Swan Queen dalam pertunjukan balet terkenal berjudul Swan Lake. Beth MacIntyre yang awalnya sebagai pemeran peran yang diambil Nina ini sangat kecewa dan menjadi frustasi. Nina hidup bersama ibunya, Barbara Hershey, seorang mantan ballerina yang sangat mendukung karir anaknya dan terobsesi
oleh keberhasilan Nina. Sebagai Swan Queen, Nina harus bisa berperan ganda, yaitu memerankan White Swan dan juga Black Swan. Nina memiliki kemampuan ballet yang sempurna untuk memerankan White Swan, sayang ia tidak mampu melakukan peran Black Swan yang lebih sensual dan keras dengan baik. Sementara itu, ballerina baru bernama Lily memiliki kemampuan lebih dalam gerakan tarinya yang lincah untuk memerankan Black Swan. Kehadiran Lily pun seakan membuat Nina menjadi frustasi dan obsesinya semakin meluap di luar jalur. Ia memutuskan untuk berteman dengan Lily, dengan maksud tersembunyi yang didasari rasa cemburunya. Segala hal licik dilakukan Nina untuk mendapatkan peran ganda ini, sehingga memunculkan sisi gelap dalam dirinya yang menyerupai Black Swan. Persaingan pun menjadi panas dan menegangkan.Black Swan adalah film phsycology thriller yang dibalut dengan kisah menegangkan dan obsesi karakter utama. Film berdurasi 108 menit ini berpusat pada sebuah ambisi dan obsesi Nina yang tak terkontrol. Karakter Nina, yang diperankan sempurna oleh Natalie Portman lah yang menjadi tonjolan utama film ini. Ambisi yang awalnya memiliki tujuan baik berubah menjadi obsesi negatif yang membawa penonton berjelajah lebih dalam ke sebuah kepribadian ganda Nina. Natalie Portman adalah kunci utama untuk membuka jalan cerita film ini. Ia bermain sangat baik, dengan alunan tarian yang indah dan kelam, dan juga mengalunkan kepribadiannya yang obsesif. Selain itu Mila Kunis bermain baik segagai Lily dengan karakternya yang terlihat bahaya. Barbara Hershey sebagai ibu Nina juga bermain baik dengan sebuah obsesi tersembunyi antara ibu ke anak. Sedangkan Vincent Cassel mampu menunjukan karakter pemimpin yang keras dan bisa dibilang pemaksa. Aronofsky mampu menyusun jalan cerita yang sensual dan penuh kegairahan. Jalan cerita berjalan dengan pelan namun detil dan jelas, dan berakhir dengan tragis dan menyedihkan. Aronofsky seakan menunjukkan penonton bagaimana buruknya sebuah obsesi dan ambisi, dan bagaimana perbedaan mendasar yang sengat bertolak belakang dari 'hitam' dan 'putih'. Alunan musik tertata sempurna, tidak berlebihan, dan membangun suasana yang pedih. Well, Black Swan adalah thriller yang sangat sempurna dalam menyatukan unsur drama, mystery, dan sedikit horror dalam ilusi seorang Nina yang sebenarnya memiliki jiwa yang kesepian.

Rate :
4/5

Saturday, January 08, 2011

SCOTT PILGRIM VS. THE WORLD (2010)

"An epic of epic epicness"
Director :
Edgar Wright

Cast :
Michael Cera
Mary Elizabeth Winstead
Ellen Wong
Anna Kendrick
Chris Evans
Brandon Routh

Distributor :
Universal Pictures

Genre :
Comedy, Fantasy, Romance






Sebenernya saya sudah lama nonton film yang satu ini, berhubung belakangan ini saya terlalu banyak nonton film dan tersendat kejar-kejaran deadline sekolah, ya jadwal ngereview jadi keteteran deh. Scott Pilgrim vs. The World adalah adaptasi dari komik enam volume asal Amerika karya Bryan O'Malley. Ini adalah salah satu film yang paling saya tunggu tahun lalu. Walaupun saya belum pernah membaca komiknya, ketertarikan pada film ini timbul saat saya melihat cuplikan trailer dan poster yang terdapat unsur grafis video game didalamnya. Keinginan untuk nonton di bioskop tidak dapat dipenuhi karena tidak didistribusikan ke Indonesia. Untungnya JiFFest memasukkan film ini dalam daftar penayangannya. Film ini masuk dalam daftar film terbaik saya tahun 2010, mungkin ada yang tidak sejalan dengan saya, ya apa mau dikata, namanya juga selera :)Scott Pilgrim vs. The World bercerita mengenai Scott Pilgrim - diperankan Michael Cera - seorang gitaris band Sex Bob-Omb. Ia sedang berpacaran dengan cewe Chinese bernama Knives Chau hingga akhirnya hubungan mereka kandas ketika Scott bertemu dengan Ramona Flowers - diperankan Winstead - cewe berambut berpenampilan mencolok yang sering timbul dalam mimpinya. Scott dan Ramona pun makin dekat, walaupun awalnya Ramona tidak terlalu tertarik padanya. Namun untuk bisa berpacaran dengan Ramona, pria berpenampilan nerd ini harus menghadapi ketujuh evil-exes (mantan pacar Ramona). Ia harus menang dalam melakukan duel yang mengejutkannya ini.
Dari segi cerita, film berbudget US$60juta ini ringan dan simple. Walau ceritanya tergolong biasa, hal ini berhasil ditutupi Edgar (Hot Fuzz, Shaun of The Dead) dengan visualisasi yang sangat keren. Efek yang memenuhi film berdurasi 112 menit ini didominasi oleh perpaduan efek grafis komikal dan video game. Efek yang eye-candy inilah yang jadi daya jual utama. Selain itu soundtrack yang mengisi tiap adegan duel di film ini mampu menghidupkan suasana. Soal penampilan pemain, Michael Cera terbilang baik, karakter semacam ini memang sudah melekat dalam dirinya, terlihat dari semua peran yang diambilnya dalam film-filmnya terdahulu. Sayangnya Edgar tidak mengembangkan karakter lain seperti ketujuh evil-exes, hal in
i membuat peran mereka terasa 'garing' dan 'numpang lewat'. Well, Scott Pilgrim berhasil memberikan sesuatu yang beda, memanjakan mata penonton dan menawarkan ide cerita yang diselingi beberapa jokes kocak. Bagi pecinta musik rock/alternatif dan video game/komik, tontonan yang satu ini sayang bila dilewatkan.


Rate :
4/5

Thursday, January 06, 2011

THE TOURIST (2010)

"It all started when he met a woman"
Director :
Florian Henckel von Donnersmarck

Cast :
Angelina Jolie
Johnny Depp
Paul Bettany
Timothy Dalton
Steven Berkoff

Distributor :
Sony Pictures

Genre :
Action, Drama, Thriller, Comedy, Remake




Wow, Angelina Jolie dan Johnny Depp beraksi dalam satu film! Siapa yang tidak mengenal mereka? Yang satu si wanita menawan pemilik bibir sexy yang sering beraksi di film-film action seperti Wanted dan Salt, satu lagi si pria unik yang kerap memerankan karakter-karakter unik seperti Mad Hatter, Jack Sparrow, dan Sweeney Tod. Akhirnya dua insan ini beradu akting dalam satu cerita. Uniknya, film ini adalah momen pertemuan pertama mereka berdua, sebelumnya - walaupun sama-sama artis Hollywood dan sangat terkenal - Jolie dan Depp tidak mengenal satu sama lain. Kehadiran mereka berdua sebagai pasangan leading role pun menarik perhatian khalayak banyak, The Tourist adalah salah satu film liburan paling ditunggu tahun 2010. The Tourist merupakan film Hollywood pertama sang sutradara, yang sebelumnya berhasil menggondol satu buah piala Oscar berkat filmnya The Lives of Others (2006). Selain itu film yang mengambil setting kota Venesia ini merupakan remake dari film asal Prancis, Anthony Zimmer.Film dibuka dengan anggota interpol yang sedang membuntuti seorang Elise Ward - diperankan Angelina Jolie - wanita elegan yang sangat menawan. Elise terus dibuntuti sampai ia kabur ke stasiun, ia tidak terkejar dan berhasil kabur naik kereta. Di dalam kereta Elise sudah seperti seorang dewi, kehadirannya menjadi daya tarik utama para penumpang pria. Hingga akhirnya ia memilih untuk duduk bersama seorang pria bernama Frank Tupelo - diperankan Johnny Depp - yang ternyata adalah seorang guru matematika dan sedang berlibur untuk menghibur dirinya dari masalah cinta. Franky yang terlihat 'bodoh' dan tak ada tujuan itu terpikat oleh Elise, akhirnya ia menerima tawaran wanita misterius tersebut untuk naik boatnya, bahkan menginap di hotel yang sama. Setelah melewati hari yang indah bersama, malamnya mereka beristirahat. Keesokan paginya Frank kaget dengan kehadiran pelayan hotel yang membawa makanan untuknya dan mengatakan bahwa Elise telah pergi. Setelah itu muncul lagi dua pria misterius yang ingin membawa dirinya. Frank tambah kebingungan, ia pun kabur dan adegan kejar-kejaran dimulai. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apa semuanya terkait dengan Elise?Tak sesuai dengan ekspetasi saya sebelumnya, The Tourist amat mengecewakan. Dari awal sampai akhir rasanya Henckel terlampau 'misterius' dalam menceritakan kisahnya. Jalan cerita terasa lamban, terlalu mengulur-ulur waktu. Awalnya saya mengira film berbudget US$100juta ini bakal dihiasi dengan adegan aksi yang seru, ternyata tidak. Actionnya hanya secuil, sisanya hanya pemandangan eksotis kota kanal itu yang diperlihatkan. Hal seperti ini boleh saja diperbanyak di adegan-adegan awal film. The Tourist terlalu memanjakan mata penonton. Cerita yang sebenarnya singkat terlalu diperpanjang hingga menimbulkan rasa bosan bagi saya. Selain itu ending cerita tergolong 'gampang', rasanya penulis naskah film ini kehabisan akal untuk menyusun sebuah cerita yang bagus dan berkualitas.Soal penampilan jajaran pemain, tidak ada yang memuaskan. Jolie terlihat begitu mengutamakan penampilan fisiknya, ya memang di sisi ini Jolie tiada tandingannya. Sedikit sekali dialog yang diucap dari pasangan hidup Brad Pitt ini, alhasil semuanya jadi kaku dan menjemukkan. Johnny Depp pun sama, penampilannya malah lebih kaku dari Jolie. Memang sih karakter yang diperankannya memang orang linglung, tapi apa salahnya bila ditambahkan beberapa adegan aksi dan dialog yang lebih menonjol. Johnny dan Angelina gagal membangun chemistry yang erat dan mempesona. Malah menurut saya, penampilan Paul Bettany sebagai seorang inspektur terlihat lebih meyakinkan, biasa saja tapi masih bisa diberi nilai lebih. So, The Tourist adalah film yang terlalu didominasi oleh keindahan setting tempat dan rupa pemain utama semata. Anehnya The Tourist berhasil mendapat beberapa nominasi Golden Globe 2011, semoga film ini tidak dapat nominasi Academy Award nanti. Well, diluar keburukan naskah dan penampilan cast yang ada, The Tourist boleh lah dijadikan hiburan awal tahun ini.


Rate :
2.5/5

Monday, January 03, 2011

YOU AGAIN (2010)

"What doesn't kill you... is going to marry your brother."
Director :
Andy Fickman

Cast :
Kristen Bell
Odette Yustman

Jamie Lee Curtis
Sigourney Weaver
Betty White

Distributor :
Touchstone Pictures

Genre :
Comedy






You Again dibuka dengan masa SMA seorang Marni (Kristen Bell) yang suram. Saat itu Marni hanyalah seorang cewe loser dan nerd, terlihat dari penampilannya yang berkacamata, jerawatan, dan berkawat gigi. Sedangkan JJ adalah seorang cheerleader yang cantik, eksis, dan seakan menjadi memiliki segalanya. JJ dan kelompoknya bahkan sebagian besar murid di sekolah itu. Kakak Marni, Will, yang juga satu sekolah dengannya adalah anggota klub basket. Akhirnya Marni lulus dan berhasil melewati masa sulitnya itu. Kini Marni telah berubah menjadi seorang wanita karir yang cantik - tanpa kacamata, jerawat, dan kawat gigi - dan bekerja di perusahaan Public Relation terkenal di Los Angeles. Bahkan ia baru saja dipromosikan untuk kedudukan lebih tinggi di New York.
Ketika Marni pulang kampung untuk menghadiri pernikahan kakaknya, Will, Marni mendapati bahwa tunangan kakaknya yang bernama Joanna itu adalah seorang JJ, musuhnya dulu. Ia sangat kaget ketika bertemu dengannya, namun anehnya Joanna malah memperlakukan Marni tidak seperti dulu, ia sangat baik sekarang. Lebih parahnya lagi, di sela kepergiannya Marni ke LA untuk bekerja, ternyata Joanna sudah banyak mengenal keluarga Marni bahkan disukai, sampai anjing peliharaan Marni sekalipun sudah tidak mengenalinya lagi, malah mendengarkan perintah Joanna. Marnia tidak bisa tinggal diam, ia tidak mau keluarganya direbut oleh cewe di masa kelamnya dulu, ia berusaha menunjukan siapa sebenarnya Joanna itu. Persoalan bertambah rumit ketika ibu Marni, Gail, juga mendapati bahwa bibinya Joanna, yaitu Ramona, juga musuh bebuyutannya dulu, dan sekarang telah berubah menjadi wanita kaya raya. Segala dendam pun berbaur untuk menunjukan siapa yang lebih unggul sekarang.
You Again adalah film yang mengangkat isu 'bullying' di masa sekolah yang dikembangkan lebih kompleks ke masa depan. Semua hal ini diangkat dalam unsur komedi yang mengocok perut dan sangat menghibur. Walaupun tidak ada yang istimewa, You Again hadir dengan jalan cerita yang teratur dan berkonsep. Fickman terasa tidak sembarang membuat film komedi ini, meskipun akhir-akhir ini banyak film komedi yang gagal dan tidak bisa ditemukan sisi lucunya. Banyak juga amanat yang mengisi film berdurasi 105 menit ini, mungkin boleh dipetik beberapa yang ada, karena buat saya amanat-amanat yang ada banyak yang membangun dan boleh saja kita terapkan, apalagi bagi pelajar yang sedang mengalami masa kelam layaknya Marni. Lagu-lagu yang mengisi film ini cukup mewarnai film, diantaranya Toxic-Britney Spears dan We Are The Champion-Queen, jadi tambah seru dan lucu untuk ditonton.
Penampilan jajaran cast tidak mengecewakan. Kristen Bell yang baru saja mengecewakan khalayak banyak - termasuk saya - dengan When In Rome nya yang mengantukkan itu tampil segar disini. Ia tampil baik dengan memerankan Marni yang dulu nerd dan sekarang berubah 180 derajat. Jujur, saya merasa Bell makin cantik disini hehe. Selain itu Jamie Lee Curtis dan Sigourney Weaver tampil lumayan dengan akting lucu sebagai pasangan musuh. Kehadiran Betty White yang lagi-lagi sebagai pemain pendukung menjadi salah satu daya tarik utama, begitu lucu dan konyol, jelas terlihat di tingkah laku dan dialognya. Ada juga Kristin Chenoweth yang memerankan seorang event organizer, beberapa tingkah dan kata-kata yang diucapkannya menghibur saya. Sepertinya belakangan ini beberapa cast Glee mulai menjajaki dunia perfilman. Oiya ada yang unik, ternyata poster film She's The Man, The Game Plan, dan You Again - yang ketiganya disutradarai Fickman - terlihat mirip (klik judul masing-masing untuk lihat posternya). Well, You Again adalah salah satu komedi di tahun 2010 yang menghibur, tidak sepenuhnya gagal seperti banyak dikritik, dan sayang jika dilewatkan. Saran saya, jangan terlalu menggali seberapa dalamnya kualitas cerita film ini, cukup nikmati saja hiburannya.


Rate :
3/5