Thursday, December 30, 2010

Film TERBAIK & TERBURUK Tahun 2010

*urutan bukan berdasarkan rank (diacak)*
FILM TERBAIK


1. DAYBREAKERS
Lagi-lagi bercerita tentang vampire, tapi Daybreakers menampilkan kisah fiksi vampire beda dari yang lain, tak seperti Twilight Saga. Kisah yang ringan tapi seru, thrilling, dan menakutkan.

2. KICK-ASS
Tak selamanya superhero memiliki kekuatan super di luar hukum alam yang ada. Kick-Ass mengemas kisah kehidupan manusia biasa yang secara 'maksa' jadi superhero. Filmnya seru, lucu, dan diisi oleh soundtrack dan scoring yang patut diancungi jempol. Chloe Moretz tampil memikat disini sebagai Hit Girl. Banyak mendapat pujian, hasilnya benar-benar memuaskan.

3. TOY STORY 3

Dua belas tahun berselang sejak prekuelnya. Toy Story 3 muncul sekalian menutup franchise mainan yang bisa bicara ini. Overall, mantap! Pixar memang tidak pernah mengecewakan.


4. SCOTT PILGRIM vs THE WORLD

Diadaptasi dari komik karya Bryan Lee O' Malley, Scott Pilgrim harus menghadapi tujuh evil-exes Ramona, wanita yang sekarang ia kencani. Perpaduan efek visual seperti di game, scoring yang memukau, dan cerita yang seru. Lagi-lagi Michael Cera tampil tidak mengecewakan. Tapi sepertinya film ini tidak cocok dikonsumsi anak kecil.

5. INCEPTION
Salah satu film paling ditunggu tahun ini. Inception menawarkan kisah yang sekilas memusingkan, tapi bila diikuti dengan seksama, ceritanya sangat cerdas. Maklum, Nolan sudah mempersiapkan proyek akbar ini dari sepuluh tahun yang lalu. Inception meraih beberapa nominasi di Golden Globe 2011.

6. THE SOCIAL NETWORK
Menceritakan awal mula terciptanya situs pertemanan Facebook, tapi film ini bukanlah official movie dari Facebook. Inti cerita sebenarnya adalah bagaimana terjadinya suatu persaingan dan kelicikan yang bisa mengubah segala hal. Banyak yang menjuluki film yang menampilkan Jesse Eisenberg ini sebagai film terbaik tahun ini.


7. EASY A

Ringan, segar, menarik, lucu, kisahnya nyata, penampilan Emma Stone memikat kaum adam hehe.

8. THE KIDS ARE ALL RIGHT
Film yang mengangkat tema lesbian ini memiliki cerita yang ringan dan menarik. Tidak menjemukkan, komedinya cerdas, permainan karakternya sangat segar dan membuat saya tidak berkedip dengan konfliknya.


FILM TERBURUK


1. CLASH OF THE TITANS
Remake film berjudul sama tahun 80-an. Jalan ceritanya monoton, membosankan, 3Dnya gagal total. Tidak memuaskan. Ironis memang, Sam Worthington baru saja sukses di Pandora.

2. THE LAST AIRBENDER
M. Night Shyamalan lagi-lagi nasib sial. Ini adalah film paling monoton sepanjang tahun 2010. Nontonnya saja udah ngantuk. Mungkin Shyamalan perlu belajar buat cerita kali ya.

3. VAMPIRES SUCK
Lagi-lagi 'monoton' jadi faktor suatu film menjadi buruk. Film yang memparodikan Twilight Saga ini hanya mengundang tawa sekali-sekali di scene yang bisa dihitung. Lainnya, jayus.

4. PREDATORS
Aneh, aneh, aneh. Membingungkan. Sepanjang film saya hanya bisa ternganga memasukan pop corn ke mulut. Sepertinya alien harus kembali ke planetnya dan berhenti melakukan invasi ke industri perfilman.

5. PIRANHA
Tidak ada seremnya. Cuma ada sex dan potongan tubuh manusia yang freak. Remake gagal.

6. SKYLINE
Tiga puluh menit awal boleh dibilang bagus. Selebihnya, mungkin mereka kehabisan ide, terkesan maksa. Hanya efek visual yang diandalkan.

Wednesday, December 29, 2010

3-in-1 Reviews: TRON LEGACY (2010), GULLIVER'S TRAVELS (2010), TANGLED (2010)

"The Game Has Changed"
Director :
Joseph Kosinski

Cast :
Garrett Hedlund
Jeff Bridges
Olivia Wilde
Bruce Boxleitner

Distributor :
Walt Disney Pictures

Genre :
Sci-Fi, Adventure, 3D





Tron Legacy merupakan sekuel dari film Sci-Fi, Tron, 28 tahun yang lalu. Kala itu Tron hadir sebagai primadona dengan efek visualisasi canggih di masa itu, hingga menyedot perhatian publik. Walau demikian, Tron kala itu mendapat banyak kritikan jelek dan tidak menghasilkan pundi-pundi uang yang memuaskan. Setelah tiga dekade berselang, Walt Disney pun berniat untuk meremake film yang cikal bakalnya berasal dari game Pong, namun Disney berubah pikiran dan mengubah proyeknya menjadi sebuah sekuel. Dengung Tron Legacy sudah diperdengarkan sejak Comic-Con 2008 dengan memperlihatkan sebuah teaser trailer. Tron Legacy pun menjadi sebuah film yang sangat ditunggu kehadirannya. Sebagai benang merah dari film pertama, Jeff Bridges kembali memerankan si pengembang video game di ENCOM, Kevin Flynn, dan Bruce Boxleitner tetap hadir sebagai Alan Bradley, CEO ENCOM sekaligus sahabat karib Flynn, walaupun porsinya disini hanya sedikit. Selain itu Garrett Hedlund dipercaya untuk memerankan anak Kevin, yaitu Sam Flynn.

Tron Legacy mengambil setting dua dekade setelah menghilangnya Kevin Flynn secara misterius dan meninggalkan putranya, Sam, yang kini hidup mandiri di sebuah garasi kecil. Suatu malam setelah berhasil melakukan sabotase di gedung ENCOM guna melindungi peninggalan ayahnya, Alan mendatangi garasinya dan memberikan kunci markas ayahnya dulu. Alan mengatakan bahwa ia mendapat sebuah sinyal dari Kevin Flynn, yang berarti Kevin masih hidup di suatu tempat. Sam pun segera menghampiri markas tersebut, sesampainya di sana ia mengutak-ngatik komputer ayahnya yang mengakibatkan dirinya terseret ke The Grid, dunia digital yang diciptakan ayahnya. Di dunia ini ia bertemu dengan Clu, kloningan Kevin Flynn yang awalnya ia kira ayah sebenarnya. Sam terpaksa mengikuti permainan jahat Clu sebelum akhirnya bertemu dan dibawa oleh ISO terakhir yang masih ada, Quorra (diperankan Olivia Wilde) ke tempat ayahnya. Perjuangan
pun dilakukan Kevin, Sam, dan Quorra untuk melawan Clu dan mencapai portal penghubung The Grid dan bumi.

Jalan cerita yang disajikan dalam film arahan sineas muda ini tergolong tidak memusingkan dan mudah dicerna, namun menurut saya tidak bisa dibilang ringan juga, karena pemaparan yang dijelaskan mengenai dunia Tron ini mungkin agak susah dimengerti oleh kebanyakan orang. Efek visual lah ya
ng diandalkan di film berbudget US$300juta ini. Dominasi sinar laser biru-hitam atau jingga-hitam sangat memanjakan mata penonton. Selain itu score yang diisi oleh Daft Punk sangat keren, menambah ketegangan dan keseruan film, alunan kombinasi musik digital dan rock mereka patut diancungi jempol dan saya anggap sebagai soundtrack film terbaik tahun 2010. Selain mengisi scoring Daft Punk turut tampil sebagai cameo. Penampilan jajaran cast Tron Legacy standar-standar saja, yang mencolok dan menjadi perhatian adalah kedua cewe digital, si ISO, Quorra dan si Siren, Gem. Yang unik adalah Jeff Bridges mengambil peran ganda, yaitu selain menjadi sosok Kevin Flynn, ia juga memerankan wajah Clu (tubuhnya sendiri diperankan oleh orang lain). Teknologi mutakhir yang dipakai dan kostum laser yang ada menelan biaya yang sangat besar, wajar saja budget film ini sampai jutaan dollar, tapi semua ini terbayar oleh hasil yang sangat memuaskan.

Rate :
3.5/5



"Something big is going down"
Director :
Rob Letterman

Cast :
Jack Black
Jason Segel
Emily Blunt
Amanda Peet

Distributor :

20th Century Fox

Genre :
Comedy, Fantasy, 3D





Gulliver's Travels merupakan adaptasi dari karya sastra berjudul sama buah pena sastrawan Jonathan Swift tiga abad lalu, tepatnya tahun 1726. Novel ini terbilang sukses, bisa dilihat dari banyaknya adaptasi yang sudah pernah ada, misalnya serial televisi maupun radio, bahkan versi filmnya pernah dibuat tahun 1939 oleh Paramount Pictures. Di masa modern kali ini, Gulliver's Travels kembali diadaptasi oleh Letterman yang dikenal sebagai sutradara film animasi Monster vs Aliens dan Shark Tale. Si komedian gemuk Jack Black yang karir perfilmannya terasa redup akhir-akhir ini dipercaya memerankan tokoh utama, Lemuer Gulliver. Film ini merupakan satu-satunya film Black di tahun 2010, tahun depan ia akan kembali mengisi suara Po, si panda gemuk pemalas dalam sekuel Kung Fu Panda. Selain itu ada juga Emily Blunt yang memerankan Princess Mary (demi peran putri ini ia rela menolak tawaran peran sebagai Black Widow dalam Iron Man 2).


Ceritanya berkisah mengenai Lemuel Gulliver, seorang pengantar surat di sebuah perusahaan surat kabar di New York. Setelah bawahannya direkomendasikan untuk menggantikan kedudukannya sebagai kepala pengantar surat, Gulliver tidak tinggal diam dan membuat contoh tulisan perjalanan yang ia copy-paste dari internet guna meyakinkan Darcy Silverman, editor cantik yang diam-diam ia sukai, supaya ia mendapatkan kedudukan yang lebih bagus di perusahaan itu. Darcy pun mengagumi tulisannya dan menugasi Gulliver untuk melakukan perjalanan ke Segitiga Bermuda dan membuat laporan apa saja yang ia alami selama perjalanan. Tak disangka, perjalanan Gulliver ini malah menjadi bencana bagi dirinya saat kapal yang ia tumpangi sendirian dihantam ombak besar hingga akhirnya terdampar di sebuah pulau misterius. Ternyata pulau yang bernama Liliput itu dihuni oleh manusia-manusia kecil dengan tinggi 10cm. Gulliver ditangkap karena dikira mata-mata dari musuh bebuyutan bangsa Liliputians. Gulliver yang seketika menjadi raksasa (padahal tidak ada perubahan ukuran yang terjadi) akhirnya menjadi pahlawan bangsa itu setelah memadamkan kebakaran istana. Teman baru pun ia dapatkan dan berbagai persoalan ia hadapi terutama seorang Liliputian yang tidak menyukai dirinya.

Cerita film ini terbilang biasa saja. Bila diingat-ingat, tidak banyak hal konyol yang mengocok perut di film ini, yang paling diingat mungkin adalah saat Gulliver memadamkan api dengan air kencingnya dan saat seorang Liliputian masuk ke dalam belahan pantatnya. Selain itu tidak banyak hal menarik yang ditawarkan Letterman. Jalan cerita sangat lambat, terlalu banyak adegan-adegan tidak penting bahkan tidak lucu yang memakan durasi 93 menit. Dalam segi pemeranan karakter, Jack Black juga biasa saja, performa lawakannya masih sama seperti film-film sebelumnya. Emily Blunt mungkin bisa dibilang agak lucu dengan ekspresi-ekspresi berlebihannya, namun sama seperti Black, biasa saja. Sayang sekali ia menolak peran Black Widow tersebut hanya untuk peran yang hasilnya tidak menggemaskan. Karakter lainnya lagi-lagi 'biasa saja'. Semua
terkesan terpaksa main film, tidak semangat, dan membuang-buang waktu. Hasilnya, Gulliver's Travels hanyalah film liburan yang sekilas menghibur dan berisi aksi dan dialog konyol yang sangat membosankan.

Rate :
2/5



"They're taking adventure to new lengths"
Director :
Nathan Greno & Byron Howard

Cast :
Mandy Moore
Zachary Levi
Donna Murphy

Distributor :
Walt Disney Pictures

Genre :
Family, 3D, Animation







Dalam aspek judul memang film ini agak membingungkan, bagaimana tidak, film ini mempunyai dua judul, yaitu Rapunzel dan Tangled. Oke saya jelaskan, Tangled adalah judul untuk pendistribusian kawasan Amerika, sedangkan Rapunzel adalah judul untuk kawasan Asia. Walt Disney sengaja merubah judul asli Rapunzel menjadi Tangled untuk menarik minat penonton laki-laki. Karena berdasarkan pengalaman tahun lalu, Princess and The Frog tidak mencapai kesuksesan yang diinginkan, hal ini disimpulkan karena adanya embel-embel 'princess' di judul sehingga tidak banyak kaum laki-laki yang menonton. Tapi anehnya untuk kawasan Asia, karya penyutradaraan Greno-Howard yang merupakan film dongeng klasik ke-100 Disney ini tetap memakai judul Rapunzel. Yang saya temukan saat nonton Rapunzel adalah ada seorang anak laki-laki yang ngomong 'ini kan film cewe!', hal ini lah yang saya pertanyakan sampai sekarang.

Berbeda dengan kisah aslinya yang banyak dikenal kebanyakan orang. Rapunzel adalah seorang putri raja. Menjelang kelahirannya, ibu Rapunzel mengalami sakit parah yang dapat membahayakan nyawa dirinya dan juga bayi di kandungannya. Satu-satunya cara adalah mengambil sebuah bunga ajaib yang bisa menyembuhkan segala penyakit atau merubah diri seseorang. Bunga ini akhirnya dipetik dan diminum oleh sang ratu hingga ia sembuh dan Rapunzel pun lahir dengan selamat. Karena bunga tersebut, rambut Rapunzel menjadi warna emas dan berkekuatan magis. Hal ini membuat Rapunzel diculik oleh Mother Gothel yang mau menggunakan rambut itu supaya tidak menua. Rapunzel tumbuh dengan rambutnya yang sangat panjang dan terkurung di sebuah menara terpencil. Ia bermimpi dapat melihat dunia luar dan bisa menonton parade lentera tahunan yang selalu diadakan di hari ulang tahunnya. Mimpinya terkabul saat seorang pencuri tampan, Flynn Rider, masuk ke menara untuk bersembunyi dari kejaran penjaga istana. Dengan Flynn, seekor bunglon kesayangan Rapunzel bernama Pascal, dan penggorengan sebagai senjata, Rapunzel menjalani petualangan yang tidak pernah ia jalani sebelumnya dan menghadapi segala kenyataan yang tidak ia ketahui sebelumnya.

Disney kembali tahun ini dengan menggabungkan gaya klasik khasnya dan teknologi CGI. Tangled/Rapunzel adalah film akhir tahun yang menghibur dan sangat menyenangkan untuk diikuti. Efek visualnya juga memanjakan mata, tampilan-tampilan pemandangan seperti acara lampion sangat indah dan luar biasa. Unsur komedi juga menjadi daya jual film berbudget US$260juta ini. Dialog-dialog yang aksi lucu Flynn, Rapunzel, maupun Maximus benar-benar mengocok perut. Action juga menghiasi perjalanan Rapunzel ini. Pesan-pesan memorable dan unsur klasik tetap diterapkan Disney. Alhasil, Tangled menjadi sebuah animasi Disney yang berbeda dari film Disney lainnya, segala unsur ada didalamnya. Dalam aspek musik, komposer langganan Disney, Alan Menken, dipercaya mengisi scoring yang hasilnya menyenangkan. Soundtrack lagu yang diisi oleh Mandy Moore dan Zachary Levi menambah keindahan film. Tak heran kalau soundtrack andalan film ini, yaitu I See The Light, mendapat nominasi Golden Globe, berikut juga filmnya sendiri. Jadi, Tangled adalah film yang sayang kalau dilewatkan dan pantas untuk semua kalangan.

Rate :
4/5


Saturday, December 18, 2010

3-in-1 Reviews : THE TOWN (2010), SKYLINE (2010), DEVIL (2010)

"Welcome to the bank robbery capital of America."
Director :
Ben Affleck

Cast :
Ben Affleck
Rebecca Hall
Jon Hamm
Blake Lively
Jeremy Renner

Distributor :
Warner Bros. Pictures

Genre :
Crime, Drama, Thriller




The Town merupakan film yang menyatukan genre crime, drama, dan thriller dalam satu balutan. The Town menceritakan Boston yang dari dulu terkenal banyak terjadi perampokan. Kota yang paling dikenal sebagai gudang rampok adalah Charlestown. Perampok profesional tak hentinya berkembang biak, polisi pun kewalahan menghabisinya. Terdapat satu kawanan rampok yang terdiri dari Doug, Jem, Gloansy, dan Dez. Suatu hari mereka sukses merampok sebuah bank memakai topeng dan menyandera salah satu karyawan bernama Claire. Mereka pun melepaskannya di suatu pantai. Suatu saat mereka menyadari bahwa Claire ternyata tinggal di Charlestown. Mereka pun memutuskan untuk mengawasi Claire untuk mencegah ia melapor hal-hal yang membahayakan keberadaan mereka pada polisi. Doug pun mendekati Claire dan terjalin lah suatu hubungan yang makin lama berubah menjadi cinta. Di lain sisi, Doug dan kawanannya tetap meneruskan rampok-merampoknya. Polisi makin geram hingga akhirnya berusaha menghentikan tindakan Doug dan kawan-kawan, yang pada akhirnya menghancurkan hubungan Doug dan kawanannya begitu pula dengan Claire.

Kisah yang sebenarnya ditonjolkan The Town adalah kisah drama Doug dan Claire, inilah permasalahnnya. Kasus demi kasus yang dijalani Doug dkk adalah balutan yang melengkapi alur cerita. Ben Affleck layak dipuji disini. Ia mampu memainkan karakter utama sekaligus mengarahkan produksi film di kursi sutradara. Ia melakukannya dengan memperlihatkan karakter Doug yang kuat dan menghidupi cerita, dan juga mengarahkan jalan cerita sehingga tercipta suatu thriller-drama dengan dialog-dialog ringan yang kompleks dan memenuhi seisi cerita. Sebelumnya Ben Affleck banyak bermain di beberapa macam film, mulai dari film 'gampang' seperti Pearl Harbour dan Daredevil, sampai menyutradarai Gone Baby Gone yang menghasilkan kritikan baik dari kalangan kritikus atas karya penyutradaraannya. Karakter Claire disini yang dimainkan Rebecca Hall agaknya terlihat kurang meyakinkan. Ia tak mampu membuat klimaks cerita begitu menarik, untung Affleck membantunya, ada juga
bintang jebolan Hurt Locker, Jeremy Renner, yang pengkarakterannya tidak mudah diprediksi. The Town mungkin mengingatkan kita pada The Departed. Ya, memang The Town belum bisa menandinginya, namun film yang satu ini sukses mengangkat tema crime-drama yang jarang ditemukan di tahun 2010 ini.

Rate :
3/5



"Don't look up"
Director:
Colin Strause & Greg Strause

Cast :
Eric Balfour
Scottie Thompson
Brittany Daniel
Donald Faison

Distributor :
Black Monday Film Services

Genre :
Sci-Fi





Dikisahkan Jarrod dan Elaine yang merupakan sepasang kekasih datang ke Los Angeles untuk meghadiri pesta temannya, Terry di malam hari. Seusai pesta, Jarrod, Elaine, Terry dan istrinya Candice, Ray dan Denise terlelap tidur di apartemen Terry. Hal misterius pun turun ke bumi di tengah malam. Suatu benda raksasa memancarkan cahaya biru yang membuat setiap orang yang memandangnya seakan terhipnotis berjalan ke arah sinar tersebut dan mereka pun disedot ke benda raksasa tersebut. Seketika seisi apartemen dikagetkan oleh Denise yang mendapati Ray telah hilang ke arah benda aneh tersebut. Siapapun yang terhipnotis benda tersebut kulitnya akan berubah dan meninggalkan tanda aneh. Semua yang tersisa dan belum dihisap benda raksasa itupun berusaha bertahan dan saling menyelamatkan satu sama lain.

Film indie karya penyutradaraan Strause
bersaudara ini cukup mengagetkan khalayak banyak, termasuk saya. Kemunculannya seakan tiba-tiba. Kabar akan diproduksinya film ini saja saya tidak tahu. Seketika saya mendapati trailernya di internet beberapa bulan sebelum kemunculannya. Skyline menawarkan efek-efek visual yang cukup memanjakan mata. Penyerangan alien yang diperlihatkan diimbangi dengan tampilan visual yang cukup meyakinkan dan musik yang menegangkan. Tapi sepertinya Strause bersaudara terlalu memfokuskan film ini di segi visual. Mereka tidak mengimbanginya dengan detil cerita yang jelas. Alhasil jalan cerita tercipta ala kadarnya dengan penampilan semua karakter yang biasa saja. Semua ini mengakibatkan alur cerita terasa monoton. Film hanya hidup di 30 menit pertama, selebihnya hanya mengandalkan visual yang makin lama makin pudar. Ending cerita yang dibalut kisah cinta Jarrod dan Elaine masih bisa dipuji. Mungkin memang susah menggunakan segala hal yang berhubungan dengan alien dalam film, layaknya Predators. Tapi satu hal yang harus diingat, Skyline adalah film indie. Tidak pantas rasanya membandingkan dengan Independence Day ataupun War of The Worlds. Skyline tidak bisa dikatakan sebagai film paling buruk di tahun 2010, karena buat saya masih ada Predators yang lebih layak mendapat gelar itu. Ya, overall Skyline cukup menarik untuk dijadikan hiburan semata.

Rate :
2.5/5




"
Bad Things Happen For A Reason."
Director :
John Erick Dowdle

Cast :
Bojana Novakovic
Jenny O'Hara
Bokeem Woodbine
Geoffrey Arend
Logan Marshall-Green

Distributor :
Night Chronicles

Genre :
Horror, Thriller




Cerita dimulai dengan terjunnya seseorang dari gedung tinggi ke atas sebuah mobil. Detektif Bowden pun menyelidikinya dan menganggap gedung dekat mayat ini jatuh bukanlah TKP asli, ia pun mendapati sebuah gedung bernomor 333 adalah TKP sebenarnya. Di dalam gedung itu lima orang yang tak saling kenal bertemu dalam satu lift. Mereka adalah Ben; seorang keamanan gedung, Vince; seorang salesman, Tony; seorang mekanik dan mantan marinir, seorang wanita paruh baya, dan terakhir seoang wanita muda bernama Sarah. Kejadian mengagetkan menimpa mereka berlima, seketika lift itu berhenti dan tidak bisa bergerak sama sekali. Pihak keamanan menyadarinya dan memperhatikan keadaan kelima orang ini lewat kamera cctv yang terpasang di lift. Teknisi pun memeriksa dan tidak mendapati kerusakan apapun. Detektif Bowden akhirnya turut menangani kejadian ini. Awalnya tidak ada yang aneh dalam lift tersebut, mereka saling menunggu pintu dibuka. Namun seketika lampu mati yang menimbulkan kegaduhan di lift. Saat lampu menyala, bagian punggung Sarah bersimbah darah padahal tidak ada seorang pun yang melukainya. Satu sama lain pun saling berjaga-jaga. Lama-lama kejadian serupa terulang kembali bahkan membunuh mereka satu persatu. Ramirez, keamanan gedung yang memperhatikan mereka lewat kamera cctv menyadari adanya keterlibatan iblis dalam kasus ini. Ternyata datu dari kelima orang ini tidak seperti wujud asli mereka alis iblis, siapakah iblis tersebut?

Devil merupakan seri pertama dari trilogi The Night Chronicles buah tangan M. Night Shyamalan. The Night Chronicles bercerita mengenai kejadian supranatural di era modern masa kini. Rencananya sequelnya yang desas-desusnya berjudul Reincarnate akan segera diproduksi. Di Devil, M. Night Shyamalan hanya duduk di kursi penulis naskah, entah mengapa ia memberikan kursi sutradaranya kepada Dowdle. Apa mungkin ia takut kembali dikritik pedas atas film ini? Ya, sineas berdarah India ini adalah sutradara yang karyanya paling sering dikritik negatif oleh kalangan banyak. Tercatat hanya The Sixth Sense lah karya yang mengundang perhatian baik, selebihnya, seperti The Village, The Happening, sampai The Last Airbender 'sukses' mendapat respon negatif. Sepertinya keputusannya untuk tidak menyutradarai Devil adalah tepat. Terbukti, Devil tidak jelek. Awal kemunculannya saya sempat ragu dengannya, tapi ternyata ia hanya bertugas menulis naskah, ya saya tambah penasaran apa sih hasil dari strategi ini. Tapi sepertinya M. Night Shyamalan narsis banget dengan mencantumkan namanya di poster film ini, takut tapi mau. Devil adalah horror yang menghibur. Takaran horror yang diberikan tidak berlebihan, selebihnya Devil penuh dengan teka-teki yang memacu pemikiran penonton. Film ini membangun ketegangan yang mengejutkan. Selain itu penampilan pemain-pemainnya tidak bisa dibilang jelek, mereka mampu mengisi jalan cerita, bahkan peran Ramirez yang religius kadang-kadang membuat penonton takut oleh segala pemikirannya yang berhubungan dengan hal gaib. Semua kejutan dan ketegangan yang dibangun Dowdle seperti eskalator, makin lama main tinggi intensitasnya. Tapi endingnya terasa sangat main aman, terlalu biasa. Padahal isi dan jalan cerita yang dipupuk sudah sedemikian menarik. Alhasil tontonan di menit-menit terakhir jadi tidak seru. Trilogi The Night Chronicles mungkin bisa jadi franchise yang cukup ditunggu. Sequel Devil ini semoga lebih menarik dan lebih pintar dalam memilih ending. Oiya, saya sangat suka dengan trailer Devil, menarik dan unik, trailernya sama tegangnya dengan filmnya, jadi sepadan. Trailer Devil saya jadikan salah satu trailer favorit saya tahun ini.

Rate :
3/5

EASY A (2010)

"The rumour-filled totally FALSE account of how I ruined my flawless reputation."
Director :
Will Gluck

Cast :
Emma Stone

Amanda Bynes
Penn Badgley

Dan Byrd
Alyson Michalka


Distributor :
Screen Gems

Genre :

Comedy




Keperawanan merupakan hal wanita yang tolak pandangnya berbeda di setiap negara. Mungkin di negara-negara barat seperti Amerika banyak orangtua yang memberikan kebebasan bagi putrinya untuk melakukan hubungan sex dengan pacarnya, berbeda dengan negara timur layaknya Indonesia. Keperawanan di sini merupakan suatu hal yang menentukan kesucian seseorang, keperawanan menjadi tolak ukur kereligiusan seseorang. Akhir-akhir ini banyak film yang membawa tema permasalahan sex remaja masa kini, baik luar maupun dalam negeri. Bedanya di Indonesia tema seperti ini diangkat dengan jelek, bisa dibilang sampah, juga aneh. Bahkan beberapa diantaranya malah disatukan dengan genre horror. Alhasil mutu kaki lima yang didapat. Berbeda dengan film-film Hollywood, walaupun banyak juga yang terlihat asal-asalan, mereka mengangkat tema ini dengan kreatif dan menyenangkan. Ya tema sex atau keperawanan memang lebih cocok diangkat industri perfilman barat, karena kehidupan mereka disana memang bisa dijadikan 'referensi'. Kalau Indonesia terlihat maksa, memang kehidupan kita tidak sejalan dengan semua film seperti ini yang dibuat para sineas tanah air.

Kali ini hadir Easy A. Sebuah komedi remaja yang disutradarai oleh Will Gluck. Tahun lalu Will juga memegang kendali dalam film Fired Up!. Easy A dibintangi oleh Emma Stone yang memerankan Olive. Ia sempat bermain kejar-kejaran zombie bersama Jesse Eisenberg dalam comedy horror yang banyak mengundang perhatian penghujung tahun lalu, Zombieland. Amanda Bynes juga hadir di sini sebagai lawan main Emma, Marianne. Setiap karakter utama pasti punya love interest, disini Emma menjalin perasaan cinta dengan Penn Badgley. Aktor yang kiprahnya naik setelah membintangi serial tv Gossip Girl ini memang belum banyak berkecimpung di industri perfilman, namun tahun lalu ia sempat membintangi sebuah thriller Stepfather.

Easy A bercerita tentang Olive, cewe yang keberadaannya di sekolah tidak dikenal, bisa dibilang gak gaul. Suatu hari ia sedang berbincang dangan sahabatnya, Rhiannon, di toilet. Rhiannon selalu mempertanyakan status keperawanan Olive. Karena kesal selalu ditanyakan hal itu, Olive berbohong saja dengan mengatakan bahwa keperawanannya sudah hilang. Perbincangan itu didengar oleh Marianne, si cewe eksis 'jesus-hollic'. Seketika kabar miring itupun menyebar ke satu sekolah. Olive dianggap cewe gampangan dan menjadi perhatian utama anak-anak sekolah. Awalnya Olive kesal dan kukuh bahwa dirinya masih perawan, namun lama-lama ia terlihat cuek dicap gadis tidak bermoral, ia menikmati popularitasnya kini. Bahkan ia nekat ke sekolah memakai baju sexy untuk menunjukkan ia memang cewe tidak benar. Berita ini akhirnya didengar pihak sekolah, Olive dipanggil dan mendapat hukuman bersama seorang cowo gay bernama Brandon. Brandon memanfaatkan popularitas Olive dengan meminta tolong pura-pura ML di pesta, supaya ia tidak lagi diejek dan disiksa karena dirinya yang gay. Awalnya Olive menolak tapi karena kasihan ia pun mau melakukannya hingga akhirnya semua berhasil. Lama-lama makin banyak cowo yang minta tolong Olive seperti Brandon, dengan tawaran duit pastinya. Olive makin menikmati kehidupannya ini. Namun lama-lama semuanya terbongkar dan masalah demi masalah justru yang timbul.

Dari awal saya sangat penasaran dengan film ini, apakah Easy A hanya sebatas film remaja pada umumnya seperti Mean Girls atau Fired Up!? Jawabannya tidak. Easy A berhasil membawa tema sex remaja dengan balutan komedi yang pas dan menghibur. Bahkan setelah menikmati film ini, saya malah tidak sadar kalau sex lah yang menjadi pokok persoalan di film berdurasi 92 menit ini. Easy A mungkin mengingatkan kita pada Juno. Kedua film ini sama-sama punya cerita yang cerdas dan penampilan karakter utama yang mengundang perhatian. Bedanya komedi yang ditonjolkan Will Gluck dalam Easy A lebih ringan dan mudah dimengerti. Emma Stone benar-benar bintang paling bersinar di film ini. Ia menghidupkan jalan cerita dengan penampilan yang kuat. Penampilan Emma di Zombieland yang hot juga cukup mengundang perhatian penonton. Ia mungkin bisa dipasangkan dengan Jesse Eisenberg, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir mereka berdua adalah bintang paling bersinar dalam penampilannya, mereka makin dipercaya dalam mengemas cerita yang apik. Selain itu penampilan Amanda Bynes sebagai protagonis juga menjadi daya tarik. Sayangnya peran yang menyebalkan dan cerewet ini adalah kiprah terakhirnya di industri perfilman. Mantan artis cilik ini sebelumnya mengumumkan hal ini di akun twitternya. Karakter lainnya terlihat biasa saja. Penyajian jalan cerita dengan perspektif Olive ini adalah komedi terbaik tahun ini, tapi sangat disayangkan Easy A tidak berhasil mendapat nominasi Best Picture - Comedy or Musical di ajang Golden Globe 2011, semoga piala Oscar akan dibawanya. Satu pemikiran Olive di akhir cerita yang sangat saya setuju:
"I think I'll lose my virginity to him. Maybe in five minutes, maybe tonight, maybe sixth months from now, or maybe on the night of our wedding. Either way, it's really none of your business."




Rate :
4/5

Thursday, December 16, 2010

The 68th Annual Golden Globe Awards Nominations

Ajang-ajang penghargaan terhadap insan perfilman dan pertelevisian di tahun 2010 akan semarak digelar awal tahun 2011 nanti. Salah satunya adalah Golden Globe, yang diselenggarakan oleh Hollywood Foreign Press Association (HFPA). Perhelatan ke 68 yang disiarkan oleh stasiun televisi NBC ini akan digelar pada Minggu, 16 Januari 2011 di Beverly Hilton Hotel, California. dan dibawakan oleh komedian Inggris, Ricky Gervais. Sementara itu semua nominasinya telah diumumkan 14 Desember 2010 lalu oleh Josh Duhamel, Katie Holmes, dan Blair Underwood.
Untuk nominasi perfilman, The King's Speech memimpin dengan menyabet tujuh nominasi, diikuti The Social Network dan The Fighter dengan enam nominasi, dan Inception dan Black Swan masing-masing empat nominasi. Untuk nominasi pertelevisian, Glee memimpin dengan lima nominasi, disusul Mad Men dan Modern Family dengan masing-masing tiga nominasi.


Untuk melihat daftar nominasi klik link dibawah ini:

The 68th Annual Golden Globe Awards NOMINATIONS

THE CHRONICLES OF NARNIA: VOYAGE OF THE DAWN TREADER (2010)

"Return to Magic. Return to Hope. Return to Narnia"
Director :
Michael Apted


Cast :
Georgie Henley

Skandar Keynes
Will Poulter
Ben Barnes
Lian Neeson
Simon Pegg


Distributor :
20th Century Fox

Genre :
Fantasy, Family, Adventure, 3D







Inilah film yang paling saya tunggu tahun ini, ya, saya memang penggemar berat adaptasi film franchise The Chronicles of Narnia begitu juga bukunya. Kisah ketiga ini merupakan buku yang paling disukai kebanyakan pembaca. Menurut kronologis cerita, The Chronicles of Narnia: Voyage of The Dawn Treader merupakan seri kelima dari kisah negeri Aslan ini, namun menurut tahun publikasi buku, ini adalah seri ketiga. Ya, memang agak membingungkan awalnya, namun kalau sudah membaca semua bukunya pasti akan mengerti alur cerita yang disuguhkan oleh C.S Lewis ini. Urutan publikasi lah yang banyak dipakai sebagai pedoman alur cerita Narnia.

PARANORMAL ACTIVITY 2 (2010)

"Nothing can prepare you"
Director :
Tod Williams


Cast :
Sprague Grayden
Brian Boland
Molly Ephraim
Katie Featherston


Distributor :
Paramount Pictures


Genre :
Horror






Paranormal Activity 2 merupakan film bergenre horror dengan format mockumentary, yaitu sudut pandang kamera yang diliput langsung oleh pemain, seakan cerita didalamnya adalah nyata. Film ini merupakan sequel pertama dari film Paranormal Activity yang tiga tahun lalu dirilis. Film pertamanya berhasil menyedot perhatian orang-orang dengan kehadirannya. Hanya dengan budget kurang lebih US$15ribu, film pertamanya sukses meraup pemasukkan sekitar US$120juta. Tidak hanya sukses dalam pemasukkan, film yang awalnya mampir-mampir dari festival film ke festival film lainnya ini juga menghipnotis perhatian para kritikus perfilman dunia, Paranormal Activity dikatakan berhasil membuat orang ketakutan dan kaget menontonnya. Film keduanya ini disutradarai oleh Tod Williams, sineas film pertama yaitu Oren Peli lebih memilih duduk di kursi sutradara.

Sequel pertama ini tetap bersettingkan sebuah rumah besar yang awalnya terlihat aman-aman saja, tidak ada hal aneh, gaib, atau apapun yang mencurigakan. Adalah Kristi dan Dan, sepasang orang tua muda yang baru pindah ke rumah tersebut. Mereka mempunyai seorang anak perempuan remaja bernama Ali, dan bayi bernama Hunter, ya, bayi inilah yang menjadi perhatian utama dari jalan cerita film ini. Keluarga ini juga mempunyai anjing peliharaan bernama Abby. Sebagai benang merah dari film pertama, dikisahkan Kristi merupakan saudari kandung dari Katie, tokoh Paranormal Activity. Disini Katie dan Micah tidak banyak muncul. Awalnya tidak ada yang aneh pada rumah ini, hingga suatu hari keluarga Kristi yang baru pulang mendapati rumah mereka berantakan seolah ada pencuri yang baru masuk. Namun anehnya tidak ada satupun harta benda yang hilang. Karena hal ini Daniel memutuskan untuk memasang kamera cctv di setiap sudut-sudut rumah, yang nantinya kamera inilah saksi bisu dari semua kejadian yang mereka alami. Dari sinilah penonton bisa melihat hal-hal gaib terjadi di rumah mereka, mulai dari benda-benda dapur bergerak sendiri padahal tidak ada angin, hingga tangisan Hunter dan gonggongan Abby di tengah malam yang tidak ada penyebabnya. Tanpa sepengetahuan majikannya, Martine (pembantu rumah tangga Kristi) yang mengetahui keberadaan roh jahat di rumah itu mengadakan sebuah ritual pengusiran arwah, namun akhirnya dipergoki Daniel sehingga ia dipecat. Iblis ini tidak hentinya mengganggu ketentraman keluarga kecil ini, hingga puncaknya Kristi dirasuki oleh roh jahat tersebut. Karena tidak tahu harus apa lagi, Dan terpaksa memanggil Martine kembali untuk mengusir roh itu dari tubuh Kristi. Untuk menghentikan semua kejadian ini, iblis itu harus dipindahkan ke rumah saudara kandung yang dimiliki Kristi, tidak lain adalah Katie (disinilah setting cerita Paranormal Activity pertama dimulai). Sebuah keputusan yang awalnya menguntungkan satu pihak namun akhirnya merugikan kedua belah pihak.

Dari film keduanya ini dapat terlihat bahwa setting waktu Paranormal Activity berlangsung setelah terror berhenti di rumah Kristi dan Dan, jadi bisa dibilang kedua film ini mengambil alur mundur. Paranormal Activity 2 tetap mengambil pola film pertamanya, yaitu mempertontonkan terror misterius yang tidak terlihat siapa pelakunya. Inilah keunikan dari franchise Paranormal Activity. Membuat penonton tidak sabar melihat endingnya. Paranormal Activity 2 tidaklah buruk, namun pemanfaatan waktu 90 menit terbilang agak lambat di puluhan menit pertama, masih seperti film pertamanya, setting waktu berganti-ganti dari siang ke malam, malam ke siang, dst. Namun kamera yang digunakan sebagai saksi bisu disini lebih banyak daripada film pertama, selain itu efek suaranya yang sangat mengagetkan porsinya juga banyak. Selain itu korban meninggal disini lebih banyak, yaitu satu keluarga (kecuali Ali), ditambah seekor anjing. Gaya found footage memang lebih pas dipakai dalam film forror. Gaya seperti ini heboh pertama kali saat kemunculan The Blair Witch Project (1999). Lalu di tahun 2007 model seperti ini kembali heboh setelah kemunculan film spanyol, REC, senasib dengan Paranormal Activity, sukses dalam hal pemasukkan dan kritikan. Rencananya franchise ini akan dilanjutkan dengan menghadirkan Paranormal Activity 3, Oktober 2011. Mungkin cerita berlanjut dengan Ali sebagai benang merah.




Rate :
3/5

Sunday, December 12, 2010

THE KIDS ARE ALL RIGHT (2010)

"Nic and Jules had the perfect family, until they met the man who made it all possible."
Director :
L
isa Cholodenko

Cast :
Annette Bening

Julianne
Moore
Mark Ruffalo

Mia Wasikowska

Josh Hutcherson


Distributor :

Focus Features


Genre :

Comedy, Drama







The Kids Are All Right merupakan film drama Amerika-Prancis yang disutradarai oleh Lisa Cholodenko. Ia lebih dikenal dalam kiprahnya di serial-serial tv seperti Push, Nevada dan The L World. Film ini memiliki plot yang berpusat pada lima karakter, kelimanya dibintangi oleh aktor/aktris yang cukup dikenal. Ada Annette Bening (American Beauty), Julianne Moore (Children of Men), Mark Ruffalo (Zodiac, 13 Going On 30), Mia Wasikowska (Defiance), dan Josh Hutcherson (Zathura).

Film ini bercerita mengenai sebuah keluarga bahagia dengan sepasang orangtua lesbian. Adalah Jules dan Nic, pasangan lesbian tersebut. Untuk mendapatkan anak, mereka meminta pada Bank Sperma untuk mendapatkan donor sperma itu. Alhasil dari sperma seor
ang pria yang disuntikkan ke kedua rahim mereka, lahirlah dua orang anak. Seorang putri berasal dari kandungan Nic, bernama Joni. Dan seorang putra berasal dari kandungan Jules, bernama Laser. Kurang lebih 15 tahun kemudian, kedua anak ini tumbuh dewasa dan membentuk keluarga rukun yang bahagia. Joni sudah berusia 18 tahun dan dengan segera akan melanjutkan pendidikannya di jenjang kuliah, Laser berusia 15 tahun dan mulai mengikuti pergaulan remaja zaman sekarang. Mereka memang sudah mengerti akan keluarganya yang tidak beranggotakan seorang ayah. Rasa penasaranpun timbul di benak Joni dan Laser untuk mengetahui siapa ayah biologis mereka. Penelusuran dilakukan hingga mereka berhasil bertemu dengan sang ayah, Paul. Pertemuan berjalan dengan lancar, Joni dan Laser tertarik dengan gaya hidup Paul, begitu pula sebaliknya. Hubungan pun berlanjut hingga Paul mendatangi rumah mereka. Awalnya muncul rasa resah dan takut dalam diri Nic dan Jules, namun mereka berusaha menghadapinya dengan santai. Awalnya pertemuan mereka berjalan lancar, namun makin lama kehadiran Paul seakan memunculkan masalah keluarga yang selama ini tertimbun. Nic memiliki affair tak terduga dengan Paul dan Jules memperlihatkan kesensitifan dirinya yang asli.

The Kids Are All Right yang mengambil tema lesbian ini menyajikan kisah yang berkualitas. Plot dan alur yang ringan berhasil dibawakan Cholodenko d
engan cerdas dan berbeda dengan kebanyakan film drama lain. Masalah serta konflik yang timbul dijelaskan sedemikian jelas dengan dialog antar tokoh yang tidak berat dan mudah dicerna serta dibumbui komedi menenangkan sehingga penonton terasa segar dan terhibur. Konflik yang disajikanpun tidak monoton, tidak hanya berpusat pada persoalan lesbian, tapi Cholodenko menumpahkannya juga pada masalah anak dan orangtua. Penampilan kelima peran berhasil dilakukan dengan menawan. Annette sanggup memperlihatkan kepribadian Jules yang sensitif dan pecemburu, Julianne Moore dengan asiknya menunjukkan diri Nic yang bisa terpikat oleh pria. Mark Ruffalo bermain dengan polosnya, tidak tahu menahu persoalan yang sebenarnya terjadi. Peran anak juga berhasil dicapai Mia Wasikowska dengan kalem. Penampilannya kali ini jauh lebih baik daripada menjadi seorang gadis yang tubuhnya mengecil dan memasuki dunia ajaib. Josh Hutcherson yang dikenal sering bermain dalam film petualangan keluarga seperti Zathura bermain lebih kalem lagi, tapi sangat memikat para penonton. Beberapa sex scene diperlihatkan sebagai pemanis film ini, dengan Mark yang terlihat berani dan santai melakukannya.

Ya, sang sutradara dan cast sukses menyajikan kisah drama komedi yang cerdas menarik, tidak menjemukkan, berbobot, dan penuh pesan tanpa terasa menggurui. The Kids Are All Right sangat layak untuk mendapatkan beberapa nominasi dalam Academy Award tahun depan. Oiya, banyaknya adegan di meja makan mungkin bisa buat yang nonton jadi ngiler.



Rate :
4/5

Monday, December 06, 2010

UNSTOPPABLE (2010)

"1,000,000 Tons. 100,000 Lives. 100 Minutes"
Director :
Tony Scott


Cast :

Denzel Washington

Chris Pine
Rosario Dawson

Jessy Schram

Kevin Dunn

Distributor :
20th Century Fox


Genre :
Action, Thriller






Unstoppable merupakan film besutan sutradara Tony Scott. Tony Scott memang piawai dalam keterlibatannya dengan film bergenre thriller-action seperti ini. Tahun lalu ia menyutradarai film The Taking of Pelham 1 2 3, yang isi ceritanya tidak jauh beda dengan Unstoppable, yaitu berkisar tentang kereta api. Selain itu design poster antar kedua film ini mirip. Tidak hanya itu, bintang dari The Taking of Pelham 1 2 3 itu sendiri juga kembali bekerja sama dengan Scott dalam film ini, yaitu Denzel Washington. Totalnya, Tony dan Denzel telah berkolaborasi empat kali, dua film lainnya adalah Man on Fire dan Top Gun. Di sini Denzel disandingkan dengan bintang Star Trek, Chris Pine.

Unstoppable bercerita mengenai kereta barang yang melaju dengan kecepatan tinggi tanpa masinis dan awak lainnya. Will Coalson, diperankan oleh Chris Pine, adalah seorang konduktor muda yang pada hari pertamanya bekerja dipasangkan dengan Frank Barnes, diperankan oleh Denzel Washington. Awalnya Will tidak disukai karena kesinisannya. Selain itu orang muda sepertinya dianggap sebagai penyebab para kondektur atau masinis tua terpaksa dipensiunkan. Frank adalah seorang masinis yang masa kerjanya akan segeran berakhir dan single father. Ia memiliki dua orang puteri. Frank memiliki hubungan yang tidak terlalu baik dengan salah satu puterinya. Will sendiri sudah menikah dan memiliki seorang putera. Namun sedang terjadi keretakan dalam hubungan dengan istrinya sehingga ia harus segera menjalani persidangan.

Di lain tempat, seorang masinis bernama Dewey turun dari keretanya sebentar untuk mengubah jalur rel. Sebenarnya kereta tersebut sedang dalam posisi rel tangan, namun karena satu hal yang mungkin bisa saja terjadi, rem tersebut lepas dan mengakibatkan kereta melaju sendirinya dengan kecepatan sangat tinggi. Kereta dengan nomor 777 sepanjang -/+ 2 km itu membawa banyak barang termasuk bahan kimia berbahaya. Di jalur yang sama melajulah satu gerbong kereta sekolah namun akhirnya kereta tersebut bisa memisahkan diri dari jalur yang sama. Berbagai usaha dilakukan pengawas kereta api dan perusahaan pemilik barang-barang yang dibawa 777 tersebut untuk menghentikan kereta tak bermasinis yang sedang melaju ke kota berpopulasi banyak penduduk. Ternyata gerbong kereta yang dibawa Frank dan Will juga satu jalur dengan 777, namun akhirnya bisa selamat. Namun timbullah niat heroik dari Frank dan Will untuk menghentikan kereta berbahaya itu.

Kisah Unstoppable sendiri diinspirasi dari kejadian nyata, yang mana dalam ceritanya terjadi beberapa perubahan untuk membuat cerita lebih kompleks. The real unstoppable sendiri terjadi di Ohio, Mei 2001. Kala itu lokomotif CSX 8888 yang bermuatan berbahaya melaju dengan kecepatan tinggi setelah ditinggalkan masinisnya. Kereta pun melaju selama dua jam dan menempuh jarak 70 mil hingga akhirnya diberhentikan oleh masinis Jess Knowlton dan konduktor Terry Forson. Akhirnya mereka dianugerahi penghargaan atas aksi beraninya tersebut.

Tony Scott berhasil membawakan kisah kereta ini, lebih baik daripada The Taking of Pelham 1 2 3. Ketegangan sudah dimulai dari awal film ketika Dewey meninggalkan kereta itu dengan remehnya, saat kereta sekolah ydan kereta Frank-Will yang hampir menabrak. Walau ada beberapa menit yang banyak dialog dan mungkin agak membosankan, namun semua itu tertutupi oleh performa Denzel dan Chris yang baik dalam menyuguhkan sedikit drama kehidupannya. Kisah cinta mereka berdua cukup memberi rasa menyentuh bagi penonton, selain itu juga sebagai selingan dari ketegangan yang memenuhi detik demi detik.Chemistry yang diciptakan Denzel dengan Chris sangat pas dan menonjol. Chris sanggup memperlihatkan aksi duet heroiknya tampak alami.

Selain itu ada juga Rosario Dawson yang dengan baik menambah emosi penonton. Bintang Seven Pounds ini dengan manis dan sengit berusaha mencegah dampak buruk yang bisa ditimbulkan the triple seven ini. Adanya scene tayangan berita yang menampilkan peristiwa unhosted train ini membuat seakan peristiwa nyata sedang terjadi. Unstoppable patut dijadikan tontonan akhir tahun yang tidak hanya mengandalkan ketegangan cerita seperti The A-Team, tapi juga profesionalisme para pemain.




Rate :
3.5/5